Profil

Rifat Najmi, Gerakkan Potensi Kaum Muda Lewat Komunitas Non-Komersial

Saat banyak anak muda bekerja untuk karier yang gemilang dan pundi-pundi uang yang melimpah, Rifat Najmi justru membangun komunitas untuk tujuan non-komersial. Bersama dengan rekan-rekannya antara lain Alanda Kariza, Citra Natasya, dan Rizki Rinandi, Rifat mengembangkan Sinergi Muda, sebuah wadah untuk mengembangkan potensi anak muda Indonesia melalui berbagai program menarik.

Rifat mengaku, ide brilian tersebut justru muncul dari keisengan semata. Awalnya, ia membuat event bertajuk Indonesian Youth Conference (IYC). Melalui ajang IYC, ia mengundang 68 aktivis muda dari 34 provinsi untuk datang ke Jakarta dan mengikuti serangkaian lokakarya dan pelatihan. Peserta diminta untuk merancang dan mewujudkan proyek mereka untuk menjawab masalah di provinsi masing-masing. Acara yang diadakan tiap dua tahun sekali ini juga menghadirkan seminar, talkshow, pertunjukan musik, pameran kebudayaan, dan expo komunitas.

Screen Shot 2016-05-10 at 1.34.03 PM

Di luar dugaan, IYC meraih respons luar biasa. Tak heran bila ajang tersebut berhasil diadakan hingga 6 kali! “Cuma kalau bentuknya event saja sulit buat ngembanginnya, makanya butuh wadah berupa yayasan tersebut. Dari situlah Sinergi Muda muncul,” kata Rifat yang juga bekerja sebagai Web Team Lead Go-Jek Indonesia.

Tepat pada 16 Desember 2012, Sinergi Muda pun lahir dengan sejumlah program menarik seperti Ngobrolin Ide, Indonesian YouthMudazine, dan Peta Muda. Tentunya, tiap wadah yang diciptakan punya tujuan yang berbeda. Ngobrolin Ide atau yang disingkat dengan Ngode merupakan acara diskusi publik bulanan yang membahas topik terkini dari kalangan generasi muda. Acara tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran, kemampuan berpikir kritis serta berdiskusi generasi muda terhadap isu-isu hangat di sekitar mereka.

Screen Shot 2016-05-10 at 1.44.00 PM

Berbeda dengan Ngode, ajang tahunan Indonesian Youth dibuat untuk mengajak anak muda berdiskusi mengenai berbagai permasalahan di lingkungannya dan mencari solusinya. “Kalau Mudazine didesain sebagai wadah ekspresi anak muda dimana mereka bisa menulis tentang apa saja. Sifatnya memang lebih ke crowdsourcing. Sementara Peta Muda merupakan situs yang memetakan berbagai komunitas anak muda di Indonesia,” lelaki kelahiran 27 Juni, 1985 ini menjelaskan.

Hingga kini, Rifat mengaku Sinergi Muda belum memiliki pemasukan tetap. Dana didapat melalui sponsor, donatur, serta layanan unit kerjasama, seperti konsultasi, event organizer, dan pembuatan video dan desain.

Sinergi Muda juga menjadi rekan kerja secara jangka panjang Badan Perlindungan Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNICEF dalam mengelola program U-Report Indonesia.

Sinergi Muda kini tengah melakukan rebranding semua program yang ada dan berfokus pembenahan sistem serta kaderisasi relawan untuk menyiapkan organisasi yang mandiri dan berkelanjutan.

Tertarik untuk membuat gerakan serupa?